Senin, 24 Mei 2010

Jangan Remehkan Singkong

JAKARTA, KOMPAS.com - Sumber energi baru kembali ditemukan. Kali ini energi tersebut ada pada tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, yaitu singkong. Tak tanggung-tanggung, tanaman ini ternyata memiliki energi yang mampu menggerakkan mobil.

"Singkong bisa diolah menjadi macam-macam termasuk etanol yang bisa diperbaharui sehingga ramah lingkungan," kata Kepala Bidang Ekonomi Komite Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI), Endy Priyatna, Senin (24/5/2010), di Jakarta.

Lalu bagaimana proses memproduksi etanol yang menjadi kandungan dalam bahan bakar kendaraan tersebut? Tahap pertama adalah proses pengupasan dan penggilingan singkong, penyaringan, hingga pengadukan. Kemudian bubur hasil penggilingan tersebut ditambahkan enzim lalu dimasukkan kedalam tangki penukar panas.

Setelah itu, masuk ke dalam proses fermentasi menggunakam ragi roti. Terakhir, hasil fermentasi tersebut dimasukkan ke tabung destilasi hingga akhirnya menghasilkan bioetanol. Bioetanol atau yang kemudian dinamakan biopremium inilah yang nantinya menjadi penggerak mesin kendaraan bermotor.

Namun, untuk memudahkan kinerja bahan bakar berbahan singkong ini, kendaraan masih memerlukan alat bantu yang berfungsi sebagai konverter. "Kalau tidak pakai konverter, harus digas terus kendaraan, dengan pakai konverter buatan khusus ini jadi lebih cepat proses pembakaran," ungkap Endy kepada para wartawan.

Konverter tersebut diletakkan pada filter bahan bakar sampai ke mesin. "Rencananya konverter ini akan dijual dengan harga Rp 120 ribu," ungkapnya. Endy berujar penggunaan konverter juga dilatarbelakangi belum adanya teknologi yang mendukung pembakaran untuk biopremium ini dalam standar mesin sekarang.

Penggunaan singkong sebagai bahan bakar kendaraan ini merupakan hasil penemuan S. Adibrata, yang kemudian dibantu proses produksinya oleh KNMI. Penelitian sudah dilangsungkan selama empat tahun dan telah diuji coba ke 1.200 kendaraan bermotor dengan hasil yang memuaskan.

Jumat, 21 Mei 2010

Peta Nusantara Ada sejak Zaman Majapahit


JAKARTA, KOMPAS.com — Sejarah mencatat bahwa kegiatan survei dan pemetaan di Nusantara dilakukan sejak delapan abad lalu. Salah satu buktinya, peta paling awal tentang Nusantara sudah dibuat oleh bangsa Nusantara sendiri pada masa Majapahit.

"Itu menurut CJ Zandvliet dari Belanda dalam jurnal Holland Horizon tahun 1994," kata Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas pada peluncuran buku Survei dan Pemetaan Nusantara: 40 Tahun Bakosurtanal di Jakarta, Kamis (20/5/2010).

"Peta administratif pernah dibuat pada masa Raden Wijaya memerintah Kerajaan Majapahit, dan diserahkan kepada tentara Yuan asal China, yang menaklukkan kerajaan tersebut pada tahun 1292," ujarnya.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa peta pertama tentang Indonesia adalah peta navigasi yang dibuat pada abad ke-15 ketika Laksamana Cheng Ho dari China melakukan pelayaran di wilayah negeri ini.

Pemetaan Indonesia yang lebih maju, ujarnya, dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonial yang awalnya datang sebagai pedagang dari mancanegara untuk mencari rempah-rempah. Pada penjajahan Belanda selama 3,5 abad itulah Belanda melakukan survei dan pemetaan ke berbagai wilayah, dan menginventarisasi kekayaan hayati Nusantara sehingga muncul berbagai peta wilayah Nusantara yang karena keterbatasan teknologi memiliki akurasi rendah.

Empat abad kemudian, ketika Indonesia telah lahir, pemetaan secara lebih detail belum ada. "Bahkan, berapa jumlah pulau di Indonesia belum juga diketahui dan baru dirintis pertama kali oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melibatkan tokoh Bakosurtanal," ujarnya.

"Sejak beberapa tahun terakhir, Bakosurtanal tengah merintis pembuatan peta berskala besar dengan akurasi tinggi yang dimungkinkan oleh teknologi yang semakin canggih, dari mulai teknologi penginderaan jauh, teknologi digital, teknologi GPS, dan teknik pemrosesan data dengan sistem komputer," katanya.

Sementara itu, pakar Sejarah LIPI, Dr Asvi Warman Adam, menegaskan pentingnya peta, yang disebutkannya sebagai satu dari tiga faktor yang membentuk suatu bangsa, selain sensus dan museum.

"Peta merupakan tulang punggung bagi pembentukan suatu negara dan identifikasi suatu bangsa," katanya.

Adapun sosiolog Imam Prasodjo di tempat yang sama mengeluhkan tersebarnya berbagai peta di berbagai institusi, seperti peta hutan gundul di Kementerian Kehutanan, peta tata ruang kota di Badan Pertanahan Nasional (BPN), peta fertilitas di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

"Negara kita terlalu senang membuat pengotak-ngotakan. Seharusnya, Bakosurtanal mengintegrasikan semua peta di berbagai institusi ini, dan menjadikan semua pemetaan Nusantara sebagai data digital yang bisa diakses semua orang," katanya.

Buku Survei dan Pemetaan Nusantara yang tebal dan hanya dicetak 1.000 eksemplar tersebut selain berbicara mengenai peran survei dan pemetaan juga membahas peran Bakosurtanal dalam melakukan survei dan pemetaan nasional.

Minggu, 16 Mei 2010

Situs Pemukiman Kuno Ambon Ditemukan

KOMPAS Antonius Ponco A.
Rabu, 5 Mei 2010 | 14:48 WIB

AMBON, KOMPAS.com - Balai Arkeologi Ambon menemukan situs pemukiman kuno di pesisir pantai Pulau Seram bagian barat atau persisnya di Desa Hatusua, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.

Salah satu peneliti di Balai Arkeologi Ambon, Wuri Handoko, di kantornya, Rabu (5/5/2010), mengatakan tim dari Balai Arkeologi Ambon memastikan tanah lapang yang sekarang kondisinya ditumbuhi rerumputan itu sebagai pemukiman kuno berdasarkan pada barang-barang yang ditemukan di sana.

Barang itu seperti banyaknya pecahan gerabah, pecahan keramik, dolmen atau batu meja, bekas pagar batu, dan rangka manusia. Semua ditemukan tersebar di lahan seluas lebih dari satu hektar.

Sayangnya saat ini, lokasi situs pemukiman kuno itu terancam keberadaannya karena aktivitas manusia.

Bebatuan gamping dari Goa Pintu Tujuh banyak diambil penambang batu guna dipakai pembangunan gedung perkantoran Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat. Selain itu, lahan kosong tempat situs pemukiman kuno berada, beberapa diantaranya di manfaatkan untuk ladang warga.

Balai Arkeologi Ambon merencanakan bertemu dengan masyarakat setempat dan pemerintah guna mensosialisasikan temuan ini. Harapannya, setelah disosialisasikan ada perlindungan terhadap situs itu mengingat pentingnya situs sebagai lapangan studi arkeologi, sejarah budaya, bahkan bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata, jelasnya.

Jumat, 07 Mei 2010

Fakta Ilmiah di Balik Segitiga Bermuda

VIVAnews - Misteri melingkupi sebuah wilayah laut di dalam garis imajiner yang menghubungkan tiga wilayah yaitu Bermuda, Puerto Riko, dan Miami di Amerika Serikat.

Ada yang menyebutnya 'Segitiga Setan', 'Limbo the Lost', 'Twilight Zone', dan yang paling tenar adalah sebutan 'Segitiga Bermuda -- terinspirasi dari artikel Vincent Gaddis di Majalah Argosy.

Meski, dalam peta Amerika Serikat, The U. S. Board of Geographic, tak ada tempat bernama 'Segitiga Bermuda'.

Wilayah ini jadi salah satu lokasi paling misterius, horor, dan menakutkan di muka Bumi. Apalagi, dalam sejarahnya, banyak kapal dan pesawat yang tertelan di lokasi itu.

Legenda Segitiga Bermuda makin ramai diperbincangkan ketika pada 5 Desember 1945 pukul 14.10 waktu setempat, lima pesawat yang dipiloti para penerbang terlatih dari kesatuan Penerbangan 19 tiba-tiba hilang di segitiga itu. Padahal cuaca sedang cerah.

Para pilot sempat meminta pertolongan lewat radio, namun, mereka tiba-tiba raib. Pesawat yang ditugasi mencari mereka juga raib misterius. Dilaporkan enam pesawat dan 27 orang hilang dalam peristiwa itu.

Juga peristiwa hilangnya kapal induk USS Cyclops pada 1918, yang hingga saat ini jadi misteri terbesar dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat.

Berbagai macam dugaan aneh muncul, ada yang mengatakan alien yang bersembunyi di bawah lautan, portal ke dimensi lain, gas methan, lokasi Atlantis yang hilang, hingga rumah iblis, Dajal.

Namun, ada juga penjelasan ilmiah yang lebih layak dipertimbangkan untuk menjawab misteri ini

***

Seperti di muat laman LiveScience, ada jawaban logis untuk menjelaskan hilangnya kapal atau pesawat di Segitiga Bermuda itu.

Daerah Segitiga Bermuda rentan terhadap badai tak terduga. Ada gelombang -- Gulf Stream -- yang sangat cepat dan turbulen -- menelan serpihan kapal, pesawat, beserta penumpangnya. Menghapus bukti-bukti terjadinya bencana.

Tak hanya itu, Laut di Segitiga Bermuda memiliki kedalaman hingga 30.000 meter atau lebih dari 9.000 meter dengan kondisi topografinya bisa 'menelan' kapal sehingga tak pernah ditemukan.

Laman Sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat, www.history.navy.mil, menjelaskan bahwa faktor signifikan yang menyebabkan hilangnya kapal di Segitiga Bermuda adalah arus laut yang kuat disebut Gulf Stream.

Sebelum telegraf, radio dan radar ditemukan, pelaut tidak tahu ada badai atau angin topan berada di dekatnya.Bencana itu baru ketahuan setelah ada perubahan di cakrawala.

Badai yang datang tiba-tiba itulah yang menyebabkan kapal angkatan laut hilang di Bahama, Saratoga. Kapal dan-krunya hilang tak berbekas pada 18 Maret 1781.

Dijelaskan juga bahwa tidak hanya di Segitiga Bermuda, banyak kapal-kapal Angkatan Laut AS lainnya telah hilang di laut karena badai di seluruh dunia -- secara mendadak.

Kapal dan pesawat bisa hilang secara tiba-tiba di wilayah Segitiga Bermuda itu karena anomali kompas yang bisa mengacaukan sistem navigasi. Soal adanya anomali ini pernah dicatat oleh Columbus dalam pelayarannya.

Dalam sejumlah catatan disebutkan bahwa Segitiga Bermuda adalah salah satu dari dua lokasi di dunia yang memiliki anomali. Wilayah lain adalah laut Jepang dan Filipina, yang juga dikenal dengan nama yang mirip, 'Segitiga Formosa'.

***

Faktor cuaca juga ikut berperan mengapa kapal dan pesawat hilang di Bermuda. Pola cuaca Karibia-Atlantik sangat ekstrim. Badai lokal yang mendadak menimbulkan cipratan air kencang yang bisa jadi bencana bagi pelaut maupun pilot.

Penelitian satelit bahkan membuktikan, adanya gelombang dahsyat setinggi 80 kaki atau bahkan lebih, terjadi di wilayah laut terbuka, seperti halnya Segitiga Bermuda.

Gelombang ini bisa menghancurkan kapal besar dan membuatnya berkeping-keping.

Ada juga faktor topografi dasar laut di Segitiga Bermuda. Dari benting [gundukan pasir tengah laut], pulau di bawah laut, hingga palung yang luar biasa dalam.

Dengan kombinasi arus kuat, kapal atau pesawat bisa terjebak di dasar laut untuk selamanya.

Sementara, seperti dimuat laman Pattayadailynews, 6 Mei 2010, ahli geokimia, Richard McIver pada 1981 memperkenalkan teori peran gas metan hidrat dalam misteri Segitiga Bermuda.

Kata dia, longsor di dasar Segitiga Bermuda besar kemungkinan mengakibatkan lumpur dan batu besar meluncur dengan cepat -- yang akhirnya merobek dasar laut dan membuka selubung lapisan gas.

Gas itu lalu pecah dan mengeluarkan metana yang menyebabkan gelombang besar. Gas itu meledak di permukaan air tanpa peringatan dan menyulitkan setiap kapal atau pesawat yang lewat di lokasi itu.

Yang juga menyebabkan kecelakaan adalah faktor mnusia. Banyak pelaut dengan pengetahuan seadanya nekat menyeberangi daerah serawan Segitiga Bermuda.

Penjaga laut Amerika Serikat selama ini telah mengabaikan faktor mitos atau fiksi di Segitiga Bermuda. Menurut pengalaman mereka, gabungan kekuatan alam dengan segala ketidakpastiannya adalah biang keladi 'kekalahan' manusia di Segitiga Bermuda. (wm)

Sabtu, 27 Februari 2010

Matahari Tidur


JAKARTA, KOMPAS.com — Cuaca dingin ekstrem melanda kawasan lintang tinggi Bumi. Fenomena ini, antara lain, disebabkan oleh Matahari yang tidur berkepanjangan. Dampaknya menjadi terasa berat karena semakin diperparah oleh adanya pemanasan Bumi dan perubahan iklim global.
Sejak Desember lalu, suhu ekstrem terus melanda kawasan Lintang Utara, yaitu mulai dari Benua Amerika, Eropa, hingga Asia. Di Eropa, suhu dingin bulan lalu pernah mencapai minus 16 derajat celsius di Rusia dan minus 22 derajat celsius di Jerman. Bagi Inggris, ini suhu ekstrem terdingin dalam 30 tahun terakhir. Jalur transportasi ke Perancis lumpuh.
Amerika Serikat pun mengalami hal yang sama. Serbuan cuaca ekstrem ini berdampak pada kegagalan panen di Florida dan menyebabkan dua orang meninggal di New York.
Kejadian luar biasa yang berskala global ini diyakini para pengamat meteorologi dan astronomi berkaitan dengan kondisi melemahnya aktivitas Matahari yang ditandai oleh menurunnya kejadian bintik matahari atau sunspot.

Bintik hitam yang tampak di permukaan Matahari melalui teropong bila dilihat dari sisi samping menyerupai tonggak yang muncul dari permukaan Matahari. Tonggak itu terjadi akibat berpusarnya massa magnet di perut Matahari hingga menembus permukaan.
Akibat munculnya bintik hitam berdiameter sekitar 32.000 kilometer atau 2,5 kali diameter rata-rata Bumi, suhu gas di fotosfer dan kromosfer naik sekitar 800 derajat celsius dari normalnya. Hal ini dapat mengakibatkan badai matahari dan ledakan cahaya yang disebut flare.
Namun, yang terjadi beberapa tahun terakhir ini adalah Matahari nonaktif. Menurunnya aktivitas Matahari itu berdasarkan pantauan Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), mulai terlihat sejak tahun 2000.
Para pakar astrofisika matahari di dunia menyebut tahun 2008 sebagai tahun dengan hari tanpa bintik matahari yang tergolong terendah dalam 50 tahun terakhir. Mereka memperkirakan beberapa tahun sesudah 2008 akan menjadi tahun-tahun yang dingin, kata Mezak Ratag, pakar astrofisika yang tengah merintis pendirian Earth and Space Science Institute di Manado, Sulawesi Utara.
Pengukuran kuat medan magnet bintik matahari dalam 20 tahun terakhir di Observatorium Kitt Peak Arizona menunjukkan penurunan. Dari medan magnet maksimum rata-rata 3.000 gauss pada awal 1990-an turun menjadi sekitar 2.000 gauss saat ini.
Penurunan sangat signifikan ini merupakan bukti bahwa hingga beberapa waktu ke depan Matahari masih akan pada keadaan malas, kata Mezak. Ia memperkirakan kalau aktivitas maksimumnya terjadi pada sekitar tahun 2013, tingkatnya tidak akan setinggi maksimum dalam beberapa siklus terakhir.
Matahari dan iklim
Saat matahari redup berkepanjangan, musim dingin ekstrem berpotensi terjadi karena Matahari—sumber energi bagi lingkungan tata surya—adalah penggerak mesin iklim di Bumi.
Sejak 1865, data di Lapan menunjukkan kecenderungan curah hujan berkurang saat Matahari tenang. Demikian pula musim dingin parah sejak akhir 2009 terjadi saat Matahari amat tenang (deep minimum) mirip kejadian 1995-1996, urai Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.
Bukti keterkaitan dengan perilaku Matahari ini ditunjukkan oleh fenomena kebalikannya, yaitu musim dingin minim salju saat Matahari aktif pada tahun 1989. Musim dingin sangat panjang terjadi saat Minimum Maunder tahun 1645-1716 dan minimum Dalton awal 1980-an.
Kondisi serupa terjadi pada 1910-1914. Itu banyak dikaitkan dengan dinginnya laut pada musibah tenggelamnya Titanic pada April 1912. Normalnya, waktu itu sudah musim semi.
Sementara itu, Mezak berpendapat, pola aktivitas Matahari minimum saat ini mirip dengan kejadian tahun 1880, 1890, 1900, dan 1910. Jadi, siklus Matahari tidak hanya menunjukkan siklus sebelas tahun. Ada siklus lebih panjang dengan periode sekitar 100 tahun—siklus Gleisberg. Dalam catatan meteorologis, saat terjadi siklus itu, banyak cuaca ekstrem dingin, tetapi tidak seekstrem Minimum Maunder.
Cuaca dan GRK
Efek aktivitas Matahari minimum lebih banyak memengaruhi daerah lintang tinggi. Aktivitas Matahari sejak sekitar tahun 2007 hingga kini memperbesar peluang terjadinya gradien suhu yang besar antara lintang tinggi dan lintang rendah. Akibatnya, kecepatan komponen angin arah utara-selatan (meridional) tinggi.
Prof CP Chang, yang mengetuai Panel Eksekutif Monsun Badan Meteorologi Dunia (WMO), berkesimpulan, aktivitas monsun lintas ekuator yang dipicu gradien suhu yang besar di arah utara-selatan akhir-akhir ini meningkat secara signifikan dibandingkan dengan statistik 50 tahun terakhir.
Hal ini memperkuat dugaan, aktivitas Matahari minimum yang panjang berkaitan erat dengan cuaca ekstrem dingin. Di Indonesia, kejadian angin berkecepatan tinggi lintas ekuator menjadi penyebab utama munculnya gelombang-gelombang tinggi dari Laut China Selatan ke perairan Laut Jawa.
Adanya gas rumah kaca di atmosfer, lanjut Thomas, juga meningkatkan suhu udara yang menyebabkan perubahan iklim. Efek gabungannya cenderung meningkatkan kerawanan bencana terkait iklim, kata Thomas.
Teori pemanasan global mengatakan, atmosfer yang memanas membuat partikel-partikel udara menjadi semakin energetik dan berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem. (YUNI IKAWATI)

Senin, 28 Desember 2009

ASA NO KAI


ASA NO KAI (朝の会)

Asanokai berasal dari dua kata yang digabungkan, “asa” yang berarti pagi dan “kai” yang berarti pertemuan, mungkin secara harfiah dapat diterjemahkan “pertemuan di pagi hari”.

Walaupun mempunyai arti pertemuan dipagi hari tetapi “asanokai” adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh para siswa yang didampingi oleh “tannin sensei” atau walikelas sebelum pelajaran dimulai dengan durasi sekitar 10 – 15 menit setiap hari.

Dalam kegiatan ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan dengan dipandu oleh pembawa acara yang dilakukan secara bergantian setiap hari oleh para siswa.

Kegiatan yang pertama adalah pengumuman yang disampaikan oleh ketua kelas ataupun wakilnya atau pengurus kelas lainnya dimana biasanya berisikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada hari tersebut, kemudian ada juga pengumuman tentang tugas-tugas yang harus dikumpulkan yang diberikan di hari sebelumnya, perubahan jadwal pelajaran yang dilakukan tentative untuk esok hari, ada juga informasi yang diberikan oleh siswa lain tentang kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak lain (konser music, pertandingan olah raga, perlombaan, dll.) serta pengumuman yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan (ekstrakulikuler) setelah jam pelajaran.

Kegiatan yang kedua adalah mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh siswa yang sehari sebelumnya telah ditunjuk dan berdasarkan jadwal yang berputar untuk semua siswa dalam kelas tersebut. Para siswa memberikan ceramah dengan materi bebas, materi ceramahnya bisa berupa pengalaman siswa bersangkutan, rencana, pekerjaan, cita-cita, dan lain-lain, siswa diberikan kebebasan berekpresi melalui materi ceramah yang ia sampaikan. Suatu pagi saya mengikuti “asanokai” salah seorang siswa bercerita tentang modifikasi sepeda yang telah ia lakukan dia juga menunjukan gambar sepeda sebelum dan sesudah dimodifikasi. Para siswa begitu antusian mendengarkan rekan mereka bercerita tentang pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa yang lain.

Kegiatan yang ketiga adalah pesan-pesan yang diberikan oleh “tannin sensei” berupa nasehat, motivasi, pesan moral, serta saran dan masukan bagi para siswa dalam menjalani kegiatan belajar setiap hari dan mencoba memcahkan masalah yang dihadapi oleh setiap siswa.

Kegiatan yang keempat adalah mengumpulkan benda-benda berharga yang dibawa siswa seperti uang, perhiasan, dompet dan barang yang dianggap berharga untuk dititipkan kepada “tannin sensei” dan disimpan diruang guru dan akan dikembalikan setelah jam sekolah berakhir.

Ketika saya mencoba untuk bertanya kenapa mereka mengadakan “asanokai” setiap hari Tsubasa sensei selaku tannin sensei memberikan jawaban “para siswa dilatih untuk mengorganisaskan kegitan belajar mereka dan memudahkan siswa dalam menjalani kegitan belajar sehari-hari dan memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan ide maupun pendapat mereka serta melatih siswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berbicara didepan umum”.

Memang selintas kegiatan tersebut hal yang sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan tetapi dibalik kegiatan tersebut para siswa dibekali dan dibiasakan untuk mengorganisasikan kegiatan-kegiatan keseharian mereka khususnya dalam hal belajar serta selalu saling mengingatkan akan tugas dan tanggung jawab masing-masing siswa. Hal ini selaras dengan dikehidupan sehari-hari dimana disemua tempat kerja baik kantor, rumah sakit, toko, supermarket, dan lain-lain, para pimpinan selalu mengadakan pertemuan sebelum mereka memulai bekerja yang fungsinya sama dengan “asanokai” yaitu mengorganisasikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan agar berjalan lancar dan sesuai dengan harapan .

Bisakah kegiatan tersebut diterapkan disekolah-sekolah Indonesia……

Sabtu, 26 Desember 2009

Suasana Sekolah di Jepang

SUASANA SEKOLAH DI JEPANG
(Bag. 1 “Berkunjung Ke Fuzoku Chuu Gakkou”)










Selasa 10 November 2009, suasana pagi ini terasa begitu dingin menusuk hingga keseluruh badan ku, sebelum berangkat memang aku menyempatkan untuk melihat perkiraan cuaca di internet, hari ini cerah suhu sekitar 5℃ sangat dingin bila dibandingkan dengan di Indonesia karena pada bulan November memang suhu perlahan-lahan turun seiring memasuki musim dingin tapi hal tersebut tidak serta merta menyurutkan langkah ku untuk mengunjungi sebuah sekolah yang memang sudah jauh hari aku bermaksud untuk mengunjunginya setelah sebelumnya sensei ku memberikan izin kepada ku untuk berkunjung dan melihat serta belajar dari para guru disekolah tersebut selama 10 hari.
Bersama dengan beberapa mahasiswa tingkat IV yang sedang melaksanakan field work dari kampus dimana selama ini aku melakukan riset tentang pendidikan ilmu pengetahuan social di Universitas Pendidikan Hokkaido (Hokkaido Kyouiku Daigaku). Karena bahasa Jepang ku sangat terbatas maka sensei ku memberikan tugas kepada salah satu mahasiswanya untuk mendapingi aku selama aku melakukan kunjungan selama sepuluh hari. Aku memanggil nya Hosogawa, mahasiswa tingkat IV jurusan social studies, walaupun belum selesai studi S1 tapi dia telah diterima diprogram S2 karena system perguruan tinggi di Jepang berbeda hal tersebut lumrah saja dilakukan.
Tiba di kampus dimana tempat kami berjanji untuk bertemu sekitar pukul 7.45 pagi dan ku lihat Hosogawa-san telah berdiri dan menunggu sambil melihat jam tangannya memang kami janji bertemu pukul 7.40 pagi, aku meminta maaf karena telat 5 menit, bagi orang Jepang tepat waktu adalah hal yang sangat penting kalau dibandingakan dengan di Indonesia terasa timpang sekali.
Semestinya kami berangakat ber-empat tetapi dua mahasiswa yang lain telah terlebih dahulu berangkat menuju Fuzoku Chuu Gakkou (SMP Fuzoku). Jadilah kami berangat berdua dengan Hosogawa-san menggunakan taxi, tariff taxi disini lumayan mahal untuk jarak sekitar 10 kilometer kami berdua membayar Rp. 155.000,00,- sangat mahal buat saya tetapi buat orang jepang pun memang ongkos taxi tergolong mahal.
Setelah sepuluh menit menempuh perjalanan akhirnya saya sampai juga di Fuzoku Chuu Gakkou.
Fuzoku Chuu Gakkou terletak agak jauh dari pusat kota, terletak ditengah-tengah pemukiman penduduk di tepi laut. Begitu menginjakkan kaki di halaman sekolah tersebut kami disambut oleh sapaan selamat pagi dari siswa dan siswi yang tersenyum ramah sambil melirik penuh tanya kearah saya maklum saya adalah satu-satunya orang asing diantara mahasiswa yang sedang mengadakan kerja praktek disekolah tersebut, saya pun membalas setiap sapaan yang dilontarkan kepada saya.

Memasuki sekolah tersebut kami tidak lupa untuk mengganti dengan sepatu yang digunakan khusus untuk didalam ruangan yang sudah saya persiapkan, karena saya diberitahu oleh sensei saya bahwa saya harus membawa sepatu lain untuk digunakan didalam ruangan sekolah. Memang disetiap sekolah di Jepang para guru maupun staff dan seluruh siswa diwajibkan untuk mengganti sepatu dengan sepatu yang lain yang digunakan khusus didalam ruangan sekolah tujuannya adalah untuk menjaga kebersihan ruangan sekolah.
Sebelum sampai diruangan yang telah dipersiapkan kami disambut oleh Tanning Sensei( Guru Pembimbing) yaitu Murase sensei yang bertugas sebagai pembimbing kami beliau adalah guru mata pelajaran social studies di Fuzoku Chuu Gakkou, sebenarnya ada dua orang yang menjadi pembimbing kami kebetulan yang menyambut kami adalah Murase sensei sedangakan Kobayashi sensei sedang ada pertemua dengan guru yang lain. Setelah saling bertegur sapa kami pun langsung menuju aula yang digunakan sebagai ruang tempat mahasiswa yang sedang mengadakan praktek lapangan, tiba disana ternyata telah banyak mahasiswa yang hadir dan sedang berbincang satu sama lain, saya adalah satu-satunya mahasiswa asing yang ikut dalam kerja praktek tersebut……bersambung